Senin, 26 Desember 2011

JARING ANGKAT (LIFT NETS)


I.         PENDAHULUAN
           
            Indonesia adalah Negara maritim yang mempunyai beribu-ribu pulau dan wilayah perairan di Indonesia lebih besar atau lebih luas di bandingkan wilayah daratan,sehingga sumberdaya alam dari laut lebih banyak dan melimpah di bandingkan dari darat,contohnya saja Indonesia adalah Negara no 1 di dunia,Negara pengekspor ikan tuna terbesar (Subani W, 1970).
Kontribusi produksi perikanan nasional sampai saat ini masih didominasi usaha perikanan tangkap, khususnya perikanan laut. Produksi perikanan tangkap periode 2000 – 2003 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,21% per tahun, yakni 5,107 juta ton pada tahun 2000 menjadi 5,948 juta ton pada tahun 2003. Selama periode tahun 2004 2005 sampai dengan kuartal ke-2, PDB subsektor perikanan mengalami kenaikan sebesar 8,78%, jauh lebih tinggi daripada kenaikan PDB sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan sebesar 5,80%. Kontribusi subsektor perikanan terhadap PDB sector pertanian dalam arti luas terus meningkat, yakni pada tahun 2004 mencapai sekitar 15%, pada tahun 2005 meningkat menjadi 15,68% (Iskandar, 2001).
Berdasarkan data badan pangan dunia FAO tahun 1994, menyebutkan Indonesia menempati urutan ke-7 sebagai produsen perikanan dunia, setelah China, Peru, Jepang, Chile, USA dan India. Maka sejak tahun 2002, dengan produksi 5,6 juta ton, menjadikan Indonesia sebagai negara produsen ikan terbesar ke-6 dunia, setelah China, Peru, India, Jepang dan USA. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2003, dinyatakan bahwa daya saing industri Indonesia saat ini bergeser ke arah industri berbasis sumberdaya alam, diantaranya termasuk industri berbasis perikanan (Subani dan Barus, 1989).


II.      HASIL PEMBAHASAN
JARING ANGKAT (LIFT NETS)
A.  DESKRIPSI ALAT
            Jaring angkat adalah suatu alat penangkapan yang pengoprasiannya di lakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical,alat ini terbuat dari nilon yang menyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relative kecil yaitu 0,5cm. Bentuk alat ini menyerupai kotak, dalam pengoprasiannya sering menggunakan alat bantu lampu atau umpan sebagai daya tarik ikan, ada berbagai jaring angkat seperti :
1.      Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)
Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets) adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali setelah banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya menggunakan perahu untuk berpindah-pindah ke lokasi yang diperkirakan banyak ikannya. Secara umum kontruksi unit penangkapan jaring angkat berperahu terdiri dari atas kerangka kayu,waring atau jarring (dari bahan polyethylene) seperti nilon serta perahu bermotor sebagai alat transportasi di laut.Pada bagian atas terdapat roller yang berfungsi untuk menurunkan atau mengangkat jaring (Ayodyoa,1981).
Ukuran alat tangkap jaring angkat perahu sangat beragam mulai dari panjang = 13 m,lebar = 2,5 m,tinggi = 1,2 m hingga panjang = 29 m,lebar = 29 m, tinggi = 17 m, mata jarring bagan perahu umumnya perukuran 0,5 cm,sedangkan ukuran mata jarring berkaitan erat dengan sasaran utama ikan yang mau di tangkap,ketika mau menangkap teri yang berukuran kecil harus menggunkan mata jarring yang lebih kecil,jika mata jarring terlalu besar maka ikan tersebut tidak akan tertangkap (Subani W. 1970).
2. Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)
            Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)  adalah jaring angkat yang dipasang menetap di perairan, berbentuk empat persegi panjang, terdiri dari jaring yang keempat ujungnya diikat pada dua bambu yang dibelah dan kedua ujungnya dihaluskan (diruncingkan) kemudian dipasang bersilangan satu sama lain dengan sudut 90 derajat. Berdasarkan cara pengoperasiannya, anco tetap diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989).
Anco atau portable lif nets termasuk alat tangkap yang sangat sederhana,terbuat dari bambu sebagai alat untuk menaik dan merunkuan jaring,mata jarring anco relative lebih kecil karena tujuan penangkapan ikan adalah ikan- ikan kecil seperti ikan petek, lebar jarring anco sangat bervariasi dari 1 m dan ada pula yang sampai 5 m.Alat ini bila di oprasikan harus dengan bantuan lampu atau umpan untuk menarik ikan (Subani dan Barus 1989).
3. Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)
            Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift net) adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali setelah banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya tidak dapat dipindah-pindah dan sekali dipasang (ditanam) berarti berlaku untuk selama musim penangkapan. Beda antara bagan tancap dengan anco tetap dan jaring bandrong adalah bagan tancap memiliki rumah penjaga, gulungan (roller), tali tarik dan gelangan pengikat dengan jaring. Bagan tancap diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989).
Bagan tancap pada umumnya tersusun atas dua bagian yaitu bangunan bagan dan jarring bagan.Bangunan bagab biasanya terdiri dari rumah bagan,pelataran bagan dan tiang pancang.Semua bangunan bagan terbuat dari bambu karena bahan ini memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap resapan air laut sehingga umur bangunan bagan dapat bertahan lama.Biasanya bagian bagan berukuran 9x9 meter, namun ada juga yang berukuran hingga 12x12 meter, sedangkan tinggi bangunan dari permukaan air laut rata-rata 12 meter (Iskandar 2001).
            Kontruksi bagan tancap yang selanjutnya adalah jaring bagan, jaring bagan di letakkan di tengah bangunan bagan, jaring bagan ini terbuat dari poly prophylene atau yang di sebut dengan waring.Ukuran jarring bagan sendiri yaitu 7x7 meter dengan ukuran mata jarringnya yaitu 0,4 cm,jaring bagan di lengkapi dengan binkai yang terbuat dari bambu dan gelang pengikat jaring yang berfungsi untuk memudahkan papada saat pengoprasian alat tangkap (Ayodyoa,1981).
4. Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).
Jaring bandrong adalah jaring angkat berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar yang ujung-ujung salah satu sisinya diikat pada patok atau tiang pancang, sementara ujung yang lain dipasang tali untuk proses pengangkatan. Berdasarkan cara pengoperasiannya, jaring bandrong diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets). Alat tangkap ini berbentuk jaring persegi empat, berukuran mulai dari 8-12 m yang cara pengoprasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical dari sisi kapal.Dalam pengoprasiannya menggunakan alat tangkap bantu lampu dan umpan sebagai alat bantu untuk mengumpulkan gerombolan ikan,dengan tujuan menangkap ikan fototaksis positif,alat ini mempunyai mata jaring yang relative kecil (Subani dan Barus 1989).

B.  METODE PENGOPERASIAN ALAT
1.      Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)
Tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan perahu adalah sebagai berikut (Iskandar 2001).
(a)    Persiapan menuju fishing ground, biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan perahu. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal. Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan operasi penangkapan seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam dan bahan makanan.
(b)   Pengumpulan ikan, ketika tiba di lokasi fishing ground dan hari menjelang malam, maka lampu dinyalakan dan jaring biasanya tidak langsung diturunkan hingga tiba saatnya ikan terlihat berkumpul di lokasi bagan atau ingin masuk ke dalam area cahaya lampu. Namun tidak menutup kemungkinan ada pula sebagian nelayan yang langsung menurunkan jaring setelah lampu dinyalakan.
(c)    Setting, setelah menunggu beberapa jam dan ikan mulai terlihat berkumpul di lokasi penangkapan, maka jaring diturunkan ke perairan. Jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang diinginkan. Proses setting ini berlangsung tidak membutuhkan waktu yang begitu lama. Banyaknya setting tergantung pada keadaan cuaca dan situasi hasil tangkapan, serta kondisi perairan pada saat operasi penangkapan.
(d)   Perendaman jaring (soaking), selama jaring berada di dalam air, nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar kapal untuk memperkirakan kapan jaring akan diangkat. Lama jaring berada di dalam perairan (perendaman jaring) bukan bersifat ketetapan, karena nelayan tidak pernah menentukan dan menghitung lamanya jaring di dalam perairan dan kapan jaring akan diangkat namun hanya berdasarkan penglihatan dan pengamatan adanya ikan yang berkumpul di bawah cahaya lampu.
(e)    Pengangkatan jaring (lifting), lifting dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul di lokasi penangkapan. Kegiatan lifting ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar ikan tidak terkejut dan tetap terkosentrasi pada bagian perahu di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah berkumpul di tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan hingga akhirnya ikanakan tertangkap oleh jaring.
(f)    Brailing, setelah bingkai jaring naik ke atas permukaan air, maka tali penggantung pada ujung dan bagian tengah rangka dilepas dan dibawa ke satu sisi kapal, tali kemudian dilewatkan pada bagian bawah kapal beserta jaringnya. Tali pemberat ditarik ke atas agar mempermudah penarikan jaring dan lampu dihidupkan lagi. Jaring kemudian ditarik sedikit demi sedikit dari salah satu sisi kapal ke atas kapal. Hasil tangkapan yang telah terkumpul diangkat ke atas dek kapal dengan menggunakan serok.
(g)   Penyortiran ikan, setelah diangkat di atas dek kapal, dilakukan penyortiran ikan. Penyortiran ini biasanya dilakukan berdasarkan jenis ikan tangkapan, ukuran dan lain-lain. Ikan yang telah disortir langsung dimasukkan ke dalam wadah atau peti untuk memudahkan pengangkutan.

2.      Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)
Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) adalah sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).
(a)    Anco tetap dioperasikan dengan cara jaring diturunkan ke arah dasar perairan pantai, muara sungai dan teluk-teluk yang relatif dangkal dengan muka jaring menghadap ke dalam perairan.
(b)   Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan jaring diputar atau dibalik dan diangkat ke arah permukaan hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring.
(c)    Kemudian hasil tangkapan diangkat dari jaring.
3.    Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)
Pada bagan tancap, operasi penangkapan dilakukan pada malam hari, dimana awal operasi menggunakan perhitungan bulan. Persiapan untuk melakukan operasi adalah merapikan jaring, menyiapkan lampu yang telah diperbaiki pada waktu istirahat (terang bulan), menyiapkan minyak dan alat-alat lain serta perbekalan atau konsumsi. Para nelayan membawa peralatannya ke kapal motor pukul 16.00, nelayan berangkat dengan menggunakan kapal motor menuju lokasi bagan tancap (Hayat 1996).
Setelah nelayan tiba di lokasi, hal-hal yang dilakukan nelayan selanjutnya adalah (Hayat 1996):
(a)    Memasang jaring pada palang jaring dan penurunan jaring ke dalam laut dengan menggunakan pemutar (roller).
(b)   Setelah hari gelap, nelayan mulai menghidupkan lampu kemudian lampu diturunkan secara perlahan-lahan ke dekat permukaan laut dengan jarak 0,5 m dari permukaan laut bila laut tenang dan 1-1,5 m dari permukaan laut bila laut bergelombang.
(c)    Setelah menunggu kurang lebih 2-3 jam, nelayan mulai melakukan pemutaran roller, hingga sedikit demi sedikit jaring naik secara perlahan.
(d)   Setelah jaring naik hingga ke geladak bagan, maka pemutaran dihentikan dan lampu diangkat lalu disangkutkan pada paku.
(e)    Pengambilan ikan dari dalam jaring dilakukan dengan cara menarik jaring agar ikan berkumpul pada suatu tempat tertentu hingga menyerupai kantong. Ikan diambil dengan menggunakan serok dan wadah ikannya adalah bakul.
(f)    Selesai pengambilan ikan dari jaring, maka jaring diturunkan kembali ke dalam laut. Pengangkatan dan penurunan jaring dapat dilakukan beberapa kali hingga pagi hari tiba.
(g)   Bila pagi menjelang, nelayan mematikan lampunya dan persiapan untuk pulang adalah menyiapkan peralatan yang akan dibawa pulang sambil menunggu jemputan kapal motor.

4. Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).
Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami) adalah sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).
(a)    Memasang jaring pada bangunan bandrong.
(b)   Kemudian jaring diturunkan ke arah dasar perairan dengan cara mengulurkan tali untuk pengangkatan.
(c)    Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan tali pengangkatan ditarik (jaring diangkat ke arah permukaan) hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring dan hasil tangkapan diangkat dari jarring.
C.  TARGET IKAN
  1. Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat perahu umumnya adalah ikan pelagis kecil seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp) (Subani W, 1970).
  1. Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat anco terutama jenis-jenis ikan pantai seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp), kembung (Rastrelliger sp) dan udang (udang penaeid) (Subani dan Barus 1989).
  1. Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat tancap umumnya adalah jenis ikan perairan pantai dan ikan pelagis seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp) (Subani dan Barus 1989).
4.   Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).
Hasil tangkapan jaring angkat bandrong antara lain tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), manyung (Tachysurus spp), pepetek (Leiognathus sp), belanak (Mugil spp), terkadang tongkol (Auxis rochei) (Subani dan Barus 1989).




















III.   KESIMPULAN

Jadi, Dalam tata cara pengoperasian dari semua jenis alat tangkap jaring angkat tersebut bahwa pada keseluruhan pengoperasian alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat pemeriksaan (setting) dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Jaring angkat Anco dan jaring angkat tancap dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai.















DAFTAR PUSTAKA

Ayodyoa. 1981. Alat Tangkap Di Indonesia. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Hayat M. 1996. Suatu Tinjauan tentang Bagan Tancap di Kecamatan Polewali, Kabupaten Polmas, Sulawesi Selatan. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Subani W. 1970. Penangkapan Ikan dengan Bagan. Tanpa Lembaga. Jakarta. 18 hal.
Iskandar. 2001. Jenis Alat Tangkap Jaring Angkat (lift nets). Malang.254 Hal.
Subani W. 1970. Penangkapan Ikan dengan Bagan. Tanpa Lembaga. Jakarta. 18 Hal.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
Sudirman. 2003. Petunjuk Pembuatan dan Pengoperasian Bagan Rakit. Semarang: Balai Pengembangan Penangkapan Ikan.


 Supported by:  2010




0 komentar:

Poskan Komentar