Selasa, 10 Juli 2012

Laporan Praktikum Ekologi Kuantitatif ilmu kelautan fakultas pertanian universitas trunojoyo madura




LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI KUANTITATIF







 Oleh
Onod Burhanuddin Rafsanjani
08.03.411.00041




PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
MADURA
2011


BAB I
Pendahuluan

I.1 Latar Belakang
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, dan lamun, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili daerah tersebut. Di dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.

Jika berbicara mengenai vegetasi, tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebut yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi yang pada umumnya terdiri dari :
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
  Adapun parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung adalah :
1. Nama jenis (lokal atau botanis)
2. Jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan
3. Penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan
4. Diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk
    Menghitung volume pohon.
5. Tinggi pohon, baik tinggi total (TT) maupun tinggi bebas cabang (TBC), penting
  untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui   ditaksir ukuran volume pohon.
Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Dibawah ini adalah beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu : Indeks Nilai Penting (INP), Keanekaragaman Jenis, dan Indeks Dominasi.
1.2       Perumusan Masalah
·         Bagaimana nilai INP, dan struktur komunitas mangrove di daerah bancaran?
·         Bagaimana persen penutupan terumbu karang di perairan Sepuluh?
·         Bagaimana persen pe penutupan, biomassa, substrat lamun di perairan Sepuluh?
I.3 Tujuan
·         Mengidentifikasi, mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) dan stuktur komunitas mangrove di daerah bancaran.
·         Mengeidentifikasi dan mengetahui persen penutupan terumbu karang di perairan Sepuluh.
·         Mengeidentifikasi dan mengetahui persen penutupan, biomassa, substrat lamun di perairan Sepuluh.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mangrove
Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang besar. (Irwanto, 2006).
Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat payau. Selain itu Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan. (Eden Surasana. 1990)
Fungsi  dan manfaat dari mangrove itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok yaitu :
  • Fungsi Fisik
  1. Menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut
  2. Melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta
    menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam
    hari.
  3. Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru.
  4. Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke danau, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.

  • Fungsi Kimia
a.       Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen
b.      Sebagai penyerap karbondioksida.
c.       Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal  
  • Fungsi Biologi
a.       Sebagai kawasan untuk berlindung, bersarang serta berkembangbiak bagi burung dan satwa lain.
b.      Sebagai sumber plasma nutfah dan sumber genetika.
c.       Sebagai habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut.
d.      Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus) yang kemudian
Komunitas mangrove di Indonesia itu sendiri pada dasarnya terdiri atas paling sedikit 47 jenis pohon, 5 jenis semak, 9 jenis herba/rumput, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit (Yayasan Mangrove, 1993). Menurut Sukardjo (1996), di Indonesia terdapat 75 jenis tumbuhan mangrove, sehingga Indonesia termasuk pula sebagai wakil pusat geografi beberapa marga mangrove,Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, Ceriops, dan Lumnitzera.
Meskipun demikian tidak semua jenis mangrove tersebut ada pada setiap tipe komunitas mangrove, menyatakan bahwa mangrove di Indonesia dikenal mempunyai keragaman jenis yang tinggi, seluruhnya tercatat sebanyak 89 jenis tumbuhan , 35 jenis diantaranya berupa pohon dan selebihnya berupaterna (5 jenis),p erd u (9 jenis),liana (9 jenis),epifit (29 jenis) dan parasit (2 jenis).
Menurut Noor et al., (1999), tipe vegetasi mangrove terbagi atas empat bagian antara lain :
  • Mangrove terbuka, mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut.
  • Mangrove tengah, mangrove yang berada di belakang mangrove zona terbuka.
  • Mangrove payau, mangrove yang berada disepanjang sungai berair payau hingga air tawar.
  • Mangrove daratan, mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya.
Zonasi Penyebaran Mangrove
Jika diperhatikan di daerah yang makin mengarah ke darat dari laut terdapat zonasi penguasaan oleh jenis-jenis mangrove yang berbeda. Dari arah laut menuju ke daratan terdapat pergantian jenis mangrove yang secara dominan menguasai masing-masing habitat zonasinya. Mangrove yang kondisinya buruk karena terganggu, atau berada pada derah pantai yang sempit, tidak menunjukkan keteraturan dalam pembagian jenis pohon dan zonasi di sepanjang pantai. Fenomena zonasi ini belum sepenuhnya difahami dengan jelas. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembagian zonasi terkait dengan respons jenis tanaman terhadap salinitas, pasang-surut dan keadaan tanah. Kondisi tanah mempunyai kontribusi besar dalam membentuk zonasi penyebaran tanaman dan hewan seperti perbedaan spesies kepiting pada kondisi tanah yang berbeda. Api-api dan pedada tumbuh sesuai di zona berpasir, mangrove cocok di tanah lembek berlumpur dan kaya humus sedangkan jenis tancang menyukai tanah lempung dengan sedikit bahan organik. Keadaan morfologi tanaman, daya apung dan cara penyebaran bibitnya serta persaingan antar spesies, merupakan faktor lain dalam penentuan zonasi ini. Formasi hutan mangrove yang terbentuk di kawasan mangrove biasanya didahului oleh jenis pohon pedada dan api-api sebagai pionir yang memagari daratan dari kondisi laut dan angin. Jenis-jenis ini mampu hidup di tempat yang biasa terendam air waktu pasang karena mempunyai akar pasak. Pada daerah berikutnya yang lebih mengarah ke daratan banyak ditumbuhi jenis bakau (Rhizophora spp.). Daerah ini tidak selalu terendam air, hanya kedang- kadang saja terendam air. Pohon tancang tumbuh di daerah berikutnya makin menjauhi laut, ke arah daratan. Daerah ini tanahnya agak keras karena hanya sesekali terendam air yaitu pada saat pasang yang besar dan permukaan laut lebih tinggi dari biasanya.
Faktor Pembatas
  • Suhu
Menurut Kolehmainen et al., (1973)dalam Supriharyono (2000), Suhu yang baik untuk kehidupan mangrove tidak kurang dari 20 ºC, sedangkan kisaran musiman suhu tidak melebihi 5 ºC. Suhu yang tinggi (>40 ºC) cenderung tidak mempengaruhi petumbuhan dan kehidupan mangrove.
  • Salinitas
Bengen (1999), menyebutkan mangrove dapat hidup pada air bersalinitas payau (20-22 ‰) hingga asin (mencapai 38 ‰).
  • Derajat Keasaman (pH)
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Effendi, 2003).
  • Tipe Substrat
Menurut Kint (1934)dalam Noor et al.,(1999), di Indonesia substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizopora mucronata danAvic ennia marina. Menurut Bengen (1999), daerah yang paling dekat dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia sp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp, yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. Meskipun demikian,Sonneratia akan berasosiasi dengan Avicennia jika tanah lumpurnya kaya akan bahan organik (KMNLH, 1993).
2.2 Terumbu karang
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan alga zooxanthella. Selain itu terumbu karang merupakan ekosistem yang khas dari daerah tropis, meskipun tidak menutup kemungkinan pada beberapa belahan dunia sub tropis juga dijumpai. Terumbu karang sendiri terbentuk dari endapan-endapan masif terutama dari kalsium karbonat (CaCo3) yang dihasilkan oleh organisme karang. (Nybakken,1992)
Terumbu karang memiliki peranan penting di laut, selain sebagai pelindung pantai dari abrasi akibat gempuran arus dan ombak, ekosistem terumbu karang juga memiliki fungsi ekologi yakni sebagai habitat biota, feeding ground (mencari makanan), spawning (pemijahan), nursery ground (wilayah perkembangbiakan) berbagai jenis organisme laut seperti ikan, krustasea, moluska, echinodermata, polikhaeta, dan biota lain yang hidup di sekitar terumbu karang tersebut.
Jenis-jenis Terumbu Karang
Menurut jenisnya terumbu karang dibedakan menjadi dua jenis, yaitu terumbu karang keras (hard coral) dan terumbu karang lunak (soft coral). Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll (Anonimous, 2005).


2.3 Lamun
Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam dalam laut. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (dioecious) (Mann, 2000).
Menurut Mann (2000), lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih pada kedalaman berkisar antara 2 ¨C 12 meter dengan sirkulasi air yang baik.
Secara ekologi padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu: produsen detritus dan zat hara; mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang;  sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini; dan  sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari (Bengen, 2002)
Jumlah jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia Tenggara adalah sekitar 20 jenis, dimana hanya 12 jenis lamun yang dijumpai di perairan Indonesia yaitu Cymodocea sermlata, C.rotundata, Enhalus acoroides, Halodule uninewis, Hpirfolia, Halophilia minor, H.ovalis, Rdecipiens, Hspinulosa, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dun Thalassodendron ciliaturn. Ke 12 jenis menyebar di perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT dan Irian Jaya.
Biomassa Lamun
Biomassa lamun dalam adalah berat dari semua material yang hidup pada suatu satuan luas tertentu, baik yang berada di atas maupun di bawah substrat yang sering dinyatakan dalam satuan gram berat kering per m2. Sedangkan produksi lamun diartikan sebagai pertambahan biomassa lamun selang waktu tertentu dengan laju produksi (produktivitas) yang sering dinyatakan dengan satuan berat kering per m2 perhari (gbk/m2/hari) atau berat karbon per m2 pertahun (gC/m2/tahun). Pengukuran produktivitas lamun dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode biomassa, metode penandaan dan metode metabolisme (Hartog, 1970).
Biomassa dan produksi dapat bervariasi secara spasial dan temporal yang disebabkan oleh berbagai faktor, terutama oleh nutrien dan cahaya. Selain itu juga sangat tergantung pada spesies dan kondisi perairan lokal lainnya seperti kecerahan air, sirkulasi air dan kedalaman),panjang hari, suhu dan angin. Besarnya biomassa lamun bukan hanya merupakan fungsi dari ukuran tumbuhan, tetapi juga merupakan fungsi dari kerapatan (Hartog, 1970).

2.4 Indeks Nilai Penting
indeks nilai penting (INP) merupakan indikator yang sesuai untuk melihat pengaruh perubahan jumlah jenis dalam petak sebelum pemanenan setelah penebangan dan penyaradan kayu.  Indeks Nilai Penting (INP) ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR), (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).






2.5 Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis adalah parameter yang sangat berguna untuk membandingkan dua komunitas, terutama untuk mempelajari pengaruh gangguan biotik, untuk mengetahui tingkatan suksesi atau kestabilan suatu komunitas. Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener :

dimana : H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
     ni = Jumlah individu jenis ke-n
     N = Total jumlah individu














BAB III
Metodologi Percobaan
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Praktikum dilakukan di dua tempat yaitu dilapangan dan di laboratorium. Untuk pelaksanaan praktikum di lapangan dilakukan pada hari sabtu 25 Desember 2010 pukul 05.00 WIB yang bertempat di Bancaran dan sepuluh
Sedangkan untuk yang di laboratorium dilakukan pada hari senin 27 Desember 2010 pukul 09.00 WIB
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan meliputi :

·        Transek kuadrat 50x50 cm
·        Tali Rafia
·        Kantong Plastik
·        Roll Meter
·        Ph meter
·        Refraktometer
·        Termometer
·        Baskom
·        Nampan
·        Oven
·        Timbangan analitik
·        Penggaris
·        Lembar Kerja
·        Alat Tulis


Bahan yang digunakan meliputi :

  • Daun
  • Substrat
  • Buah
  • Formalin


3.3  Prosedur Kerja
  • Terumbu karang
Penentuan stasiun untuk ekosistem terumbu karang digunakan metode Line Intercept Transek (LIT). Roll meter sepanjang 55 meter dibentangkan di dasar perairan yang merupakan wilayah ekosistem terumbu karang. Posisi bentangan rol meter akan bersinggungan dengan terumbu karang. Kemudian mengambil data dimana dimulai dari titik nol untuk mencatat transisi dan kategori lifeform yang berada tepat dibawah transek garis. Data kategori lifeform biota habitat dasar dan transisi tempat penggantian lifeform dicatat dalam lembar data, Pencatatan lifeform dan titik transisi tempat penggantian lifeform dilanjutkan hingga akhir plot. Kemudian menganalisis data
  • Struktur komunitas dan biomassa lamun
Meletakkan atau membentangkan transek mulai dari ditemukan lamun sampai tidak di temukan ke arah pantai. jarak transek 1 ke yang lain yakni 50-100 m, dan pada satu titik ada 4 transek kuadrat. selain itu juga parameter lingkungannya diukur dan setelah itu mengestimasi persen penutupannya
·         Analisa data Mangrove
Mengidentifikasi dengan buku identifikasi, Menghitung Indeks Nilai Penting Mangrove (INP), yaitu: Data lapang yang dihitung : Di, RDi, Fi, RFi, Ci, RCi dan INP. Kerapatan jenis (Di) dan Kerapatan relatif jenis (RDi)






BAB IV
Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil
4.1.1 Mangrove
·        Anakan
No
Spesies
Jenis (anakan)
diameter
1
Rhizopora mucronata
Jumlah 157
2 cm

·        Semaian
no individu
stasiun
spesies
semaian (D)/cm
1
A
RM
3
2
A
RM
4
3
A
RM
3
4
A
RM
4
5
A
RM
3
6
A
RM
3
7
A
RM
3
8
A
RM
3
9
A
RM
4
10
A
RM
4
11
A
RM
3
12
A
RM
3
13
A
RM
4
14
B
RM
3
15
B
RM
2.5
16
B
RM
3
17
B
RM
4
18
B
RM
3.5
19
B
RM
3.2
20
B
RM
2.8
21
B
RM
3
22
B
RM
3
23
C
RM
4
24
C
RM
3
25
C
RM
2.5
26
C
RM
2.5
27
C
RM
4
28
C
RM
3
29
C
RM
3.5
30
C
RM
4

Nb : RM (Rhizophora mucronata)
·        Dewasa
no individu
stasiun
Spesies
dewasa (D)/cm
1
A
RM
18
2
A
RM
17
3
A
RM
25
4
A
RM
26
5
A
RM
19
6
B
RM
28
7
B
RM
29
8
B
RM
19
9
B
RM
27
10
B
RM
30
11
B
RM
26
12
B
RM
19
13
B
RM
25
14
B
RM
19
15
B
RM
20
16
B
RM
24
17
B
RM
26
18
B
RM
19
19
B
RM
18
20
B
RM
19
21
B
RM
22
22
B
RM
26
23
B
RM
26
24
B
RM
25
25
B
RM
19
26
C
RM
30
27
C
RM
31
28
C
RM
28.5
29
C
RM
39.5
30
C
RM
30
31
C
RM
30
32
C
RM
33
33
C
RM
33
34
C
RM
34
35
C
RM
30
36
C
RM
23
37
C
RM
17
38
C
RM
29
39
C
RM
34
40
C
RM
28
41
C
RM
37
41
C
RM
37
43
C
RM
23

4.1.2 Lamun
·        Stasiun 1
2,4,2,0
2,5,4,3
5,1,3,5
2,3,5,4
1,5,5,2
1,0,0,1
3,3,4,3
4,4,1,5
0,2,2,0
2,5,3,4
3,5,3,5
2,5,0,3
4,3,2,1
4,5,2,2
0,4,3,0
3,2,2,4
2,0,1,2
3,2,2,0
2,5,0,0
0,5,3,4
2,4,2,5
4,2,1,4
5,3,2,0
1,1,4,4
2,2,3,0



·        Stasiun 2
0,0,2,3
1,5,0,4
5,0,3,2
1,0,3,3
1,3,3,2
1,0,4,3
3,4,0,2
3,5,4,3
2,0,0,1
4,5,2,3
2,2,0,0
3,2,4,5
1,5,5,5
4,4,3,5
3,0,2,1
4,5,2,1
2,5,1,5
3,3,2,1
3,4,4,2
5,2,0,4
5,3,0,2
2,1,1,2
4,4,3,0
0,1,3,3
3,4,5,1

·        Stasiun 3
1,0,2,0
1,1,1,0
0,0,0,1
2,0,3,2
1,0,0,2
2,1,3,0
2,2,3,4
1,2,3,0
2,4,3,2
3,3,2,1
1,1,2,1
3,5,4,0
3,4,0,1
4,3,2,1
2,0,0,5
2,1,2,2
4,3,5,2
3,3,2,1
1,5,4,0
1,3,1,2
0,0,1,3
2,2,3,4
4,3,1,2
2,1,5,0
2,1,1,3

4.1.3 Terumbu Karang
Jarak
Jenis karang
Pengukuran
0-5
DC
0-1

Rabel
1-2

ACT
2-3

Rabel
3-4,5

DC
4,5-5
5-10
Rabel
5-6

ACT
6-7,5

Rabel
7,5-8,5

Rabel
8,5-10
10 – 15 cm
ACT
10 – 10,3 cm

Rabel
10,3 – 11 cm

Rabel
11 – 12  cm

Rabel
12 – 14 cm

ACT
14 – 15 cm
15 – 20 cm
Rabel
15 – 17 cm

DCA
17 – 17,4 cm

Rabel
17,4 cm – 20 cm
20 – 25 cm
Rabel
20 – 21 cm

DCA
21 – 22 cm

Rabel
22 – 23 cm

DCA
23 – 24 cm

Rabel
24 – 25  cm
25 – 30 cm
Rabel
25 – 27 cm

ACB
27 – 28,30 cm

Rabel
28,30 – 30 cm
30 – 35 cm
Rabel
30 – 32 cm

M
32 – 32,50 cm

Rabel
32,50 – 34 cm

ACB
34 – 34,20 cm

Rabel
34,20 – 35 cm
35 – 40 cm
Rabel
35 – 35,30 cm

M
35,30 – 36 cm

DC
36 – 37 cm

M
37 – 37 ,20 cm

ACB
37,20 – 38 cm

R
38 – 38,10 cm

M
38,10 – 40 cm
40 – 45 cm
R
40 – 40,40  cm

M
40,40 – 41 cm

ACB
41 – 41,40 cm

DC
41,40 – 41,80 cm

M
41,80 – 42,30 cm

R
42,30 – 43,80 cm

S
43,80 – 44,40 cm

DC
44,40 – 45 cm
45 – 50 cm
R
45 – 47 cm

DC
47 – 48 cm

ACB
48 – 48,20 cm

R
48,20 – 49 cm

S
49 – 50 cm
50 – 55 cm
M
50 – 51,5 cm

DC
51,5 – 51,10 cm

R
51,10 – 51, 40 cm

DC
51,40 – 52 cm

R
52 – 55 cm

Sedimen lamun
No
Ukuran saringan
Berat sedimen
Titik  1
Titik  2
Titik 3
Titik 4
1
2 mm
0,250 g
13,972 g
7,74 g
8,712 g
2
1 mm
0,485 g
16,367 g
10 g
16,747 g
3
500 μm
2,290 g
8,757 g
5,667 g
9,631 g
4
250 μm
95,450 g
3,824 g
2,716 g
7,281 g
5
125 μm
46,147 g
27,250 g
13,907 g
27,248 g
6
63 μm
0,702 g
23,761 g
11,880 g
20,520 g
7
45 μm
0,029 g
1,541 g
0,745 g
1,113 g

Berat lamun
no
Stasiun
Berat basah
Berat kering
Daun
Akar
Daun
Akar
1
1
11 g
36 g
5 g
25 g
2
2
8 g
23 g
3,2 g
15 g
3
3
7 g
33 g
2,5 g
13 g

Parameter Lingkungan
Suhu : 320c
Salinitas : 27
Ph : 7,8
Pengukuran biomasa lamun
·        Daun : 8gr dan 7gr
·        Akar : 23gr dan 33gr

Pembahasan















Dari hasil praktikum bahwa nilai INP mangrove pada transek A,B,C sama dengan 300 karena pada ketiga transek tersebut jenis mangrove yang ditemukan hanya satu jenis yaitu rhizopora mucronata. Nilai penting suatu jenis mangrove untuk tingkat pohon dan anakan berkisar antara nol sampai 300. Indeks nilai penting (INP) menjelaskan pengaruh atau peranan suatu jenis vegetasi mangrove dalam suatu komunitas mangrove yang diamati. Semakin tinggi indeks nilai penting suatu jenis, maka semakin tinggi pula peranan jenis mangrove tersebut dalam ekosistem.
Untuk  indeks keanekaragaman menunjukkan nilai H` < 1 maka keanekaragaman jenis rendah , 1< H’< 3 keanekaragaman jenis sedang, sedangkan H` > 3 berarti keanekaragaman jenis tinggi. Pada hasil praktikum ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman sangat rendah karena jenis mangrove yang ditemukan hanya satu jenis.
Untuk indeks keseragaman nilainya e < 0,4 keseragaman populasi kecil, 0,4 < e < 0,6 keseragaman populasi sedang e > 0,6 keseragaman populasi tinggi. Pada hasil praktikum ini menunjukkan bahwa nilai indeks keseragamannya tinggi begitu pula dengan indeks dominansinya yang bernilai satu, hal ini disebabkan karena pada praktikum ini hanya ditukan satu jenis mangrove yaitu jenis rhizopora mucronata.
1.1.1.      Lamun
transek
titik 1
titik 2
titik 3
1
15.7524
22.3768
11.7532
2
35.1264
25.376
15.3768
3
16.8772
18.6264
13.3772
4
24.626
22.3772
10.8776
92.382
88.7564
51.3848
% rata-rata
23.0955
22.1891
12.8462
Keterangan : 1 = titik 1
                      2 = titik 2
                      3 = titik 3
·         Pembahasan
Jenis lamun yang ditemukan di perairan sepuluh adalah Thalasia hemprichii . Dari table di atas terlihat hasil perhitungan persen penutupan pada setiap titik dan pada setiap transek. Untuk titik 1 rata-rata persen pentupannya 40 %, untuk titik 2 yaitu 38% dan untuk titik 3 yaitu 22%. Dari ketiga titik nilai persen penutupan yang terbesar pada titik 1.

1.1.2.      Terumbu karang
% penutupan karang
DCA=
4.363636
ACT=
2.363636
Rable=
50.36364
ACB=
5.454545
M=
10.72727
DC=
4
S=
0.029091
Persen penutupan komponen penyusun habitat dasar perairan. Komponen  penyusun habitat dasar dibagi dalam beberapa kelompok komponen antara lain adalah Dead Coral with Alga (DCA),  Acrophora tabular (ACT), Rabel, Acrophora branching (ACB), Masiv (M), Dead coral (DC), Sand (S)

                     Dari diagram di atas terlihat bahwa persen penutupan terumbu karang didominasi oleh rubble atau pecahan karang. Sedangkan jenis karang yang terdapat di perairan tersebut adalah acropora dan masiv. Ini menggambarkan bahwasannya perairan di bancaran banyak terjadi aktivitas baik itu manusia maupun alam














BAB V
Penutup
5.1 Kesimpulan
Biomassa lamun dalam adalah berat dari semua material yang hidup pada suatu satuan luas tertentu, baik yang berada di atas maupun di bawah substrat yang sering dinyatakan dalam satuan gram berat kering per m2. hasil perhitungan persen penutupan pada setiap titik dan pada setiap transek. Untuk titik 1 rata-rata persen pentupannya 40 %, untuk titik 2 yaitu 38% dan untuk titik 3 yaitu 22%. Dari ketiga titik nilai persen penutupan yang terbesar pada titik 1.
indeks nilai penting (INP) merupakan indikator yang sesuai untuk melihat pengaruh perubahan jumlah jenis dalam petak sebelum pemanenan setelah penebangan dan penyaradan kayu.
Persen penutupan adalah persentase luas area yang ditutupi oleh pertumbuhan karang, persen penutupan diperoleh dengan mengukur intersep koloni karang sepanjang garis transek dibagi dengan panjang transek dikali 100%

















Daftar Pustaka
Den Hartog,C., 1970. The Sea Grasses of the World North Holland Publishing
        Company.Amsterdam,275p
Nybakken, JW.1982. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. [Alih bahasa: HM Eidman,
        dkk.1986] PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Soerianegara, I dan Andry Indrawan. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan
        Institut Pertanian Bogor.
Saleh, Amrullah. 2009. Teknik Pengukuran Dan Analisis Kondisi Ekosistem Terumbu
        Karang. [Artikel, pdf]. http://regional.coremap.or.id/Analisis_Penilaian_TK.pdf.
        Diunduh pada 30 Desember 2010.
Supriharyono, 2000. Pengelolaan ekosistem terumbu karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. h 2-10.

(Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
(Hartog, 1970).
(Bengen, 2002)
(mann , 2000)
(Anonimous, 2005).
(Nybakken,1992)
(Effendi, 2003).
Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta : Bumi Aksara
Nybakken, JW.1982. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. [Alih bahasa: HM Eidman, dkk.1986] PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Soerianegara, I dan Andry Indrawan. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
CII. 2004. Konservasi berbasis masyarakat melalui daerah perlindungan laut di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah. Palu. h. 1-10.
English, S., C. Wilkinson dan V. Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institut of Marine Sciene. Townsville. h. 5-51.

Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP)
DKP.,2004. Ekologi dan Potensi Sumherdaya Perikanan Lambata, Nusa Tenggara Timur.
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Lautjpser Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.hal38.
Den Hartog,C., 1970. The Sea Grasses of the World North Holland Publishing Company.Amsterdam,275p Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI. No.200 Tahun 2004. Kriteria Baku Kemsakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. Jakarta.
Setyono,D.E.D., 1993. Distribusi dan Dominasi Lamun (Sea grass) di Teluk Ambon. Perairan Maluku dan Sekitarnya. Jakarta: Balai Litbang Sumberdaya Laut. Puslitbang Oseanologi-LIPI.
Anonimous. 2010. Terumbu Karang. http://www.oceanografi.blogspot.com diakses tanggal 28 Desember 2010.
Anonimous. 2010.Deskripsi Lamun. http://www.ipb.ac.id diakses tanggal 28 Desember 2010.
Arikunto. 2007. Ekosistem Mangrove (Bakau). http://www.woodpres.com diakses tanggal 28 Desember 2010    
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.
Priyono. 2007. Pemetaaan Terumbu Karang Dengan Satelit Sumberdaya alam. http://www.google/sutikno.org diakses tanggal 28 Desember 2010.



0 komentar:

Poskan Komentar